Artikel

| Thursday, October 2, 2014
Ragam Aliran Indonesia
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki ragam budaya. Mulai dari sabang sampai merauke. Ada begitu banyak budaya yang dimiliki. Di Indonesia juga begitu kental akan rasa toleransi. Inilah faktor yang membuat negara Indonesia aman tanpa memakai kekerasan. Banyak negara luar yang menjadikan Indonesia sebagai pedoman mereka mendirikan bangsa.

Kata aliran diturunkan dari alir, mengalir seperti dalam sebaris lagu ”Bengawan Solo”: air mengalir sampai jauh. Apa makna aliran? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, aliran bermakna ‘(1) sesuatu yang mengalir (air, hawa, listrik, dsb), (2) saluran untuk benda cair yg mengalir (seperti pipa air), (3) haluan, pendapat, paham (politik, pandangan hidup, dsb).

Aliran berikut berhubungan dengan pandangan, sikap, haluan. Ke dalam aliran ini dimasukkan, aliran politik, aliran filsafat, dan tentunya yang sudah lama ada, aliran kepercayaan (suatu paham yg mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, tetapi tidak termasuk atau tidak berdasarkan ajaran salah satu dari kelima agama yang resmi: Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha). Agar aliran dalam pengertian kedua ini tidak mengalir ke kesesatan, maka aliran ini sebaiknya disebut saja ajaran. Dalam KBBI online, ajaran bermakna ‘segala sesuatu yang diajarkan; nasihat; petuah; petunjuk; paham’. Kita perlu mencermati penggunaan makna aliran sebab kata tersebut bisa bermakna sesat secara teknis dan sesat secara ideologis. Aliran yang bersifat ideologis dikatakan ajaran. Jadi, jika ajaran itu sesat, maka yang sesat adalah ajarannya.

MUI sebagai lembaga penengah telah menetapkan ciri-ciri aliran yang dianggap sesat. Pertama, mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam. Kedua, meyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil Al-Quran dan Sunnah. Ketiga, meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran, mereka kelompok syiah mengatakan bahwa Al-Quran itu “Laa yazaalu yanzilu fii lailatul qadar”, Al-Quran (masih) senantiasa turun pada malam lailatul qadar. Yang keempat, mengingkari otentisitas dan kebenaran Al-Quran. Kalangan syiah meyakini Al-Quran sudah tidak otentik, mereka menghujat pengumpulan yang dilakukan oleh khalifah Utsman bin Affan ra. dan mengkritk bahwa Al-Quran yang ada pada saat ini sudah tidak asli. Yang kelima, menafsirkan Al-Quran tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir. Keenam, mengingkari kedudukan hadits sebagai sumber ajaran islam. Ketujuh, melecehkan dan mendustakan Nabi saw. Kedelapan, mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir.Kesembilan, mengurangi dan atau menambah pokok-pokok ibadah yang tidak ditetapkan oleh syariat.  Kesepuluh mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya.

 Sekitar seminggu yang lalu pemerintah Indonesia melalui kementerian Agama menyatakan bahwa ada agama atau keyakinan yang sangat berbahaya yang bertentangan dengan ideologi negara pancasila. ISIS atau yang dikenal dengan Islam State Irac dan Suriah. Menurut kabar burung, aliran ini adalah aliran kepercayaan bergaris keras. Mereka memandang bahwa mereka yang paling benar dan orang lain selain mereka itu salah dan masuk neraka. Jika ada yang melawan mereka maka dianggap sebagai musuh (orang kafir) dan berani membunuh ditempat. Dunia juga mengabarkan yang diterbitkan majalah Republika pada Minggu, 10 Agustus 2014, memberitakan bahwa teroris ISIS mengubur hidup-hidup sejumlah anak-anak dan pemuda secara massal.

Jika dilihat dari beberapa faktor ada beberapa faktor yang menyebabkan aliran ini berkembang di Indonesia. Pertama kurangnya perhatian pemerintah Indonesia dalam menangani masalah kepercayaan. Semua orang diberikan kebebasan memeluk agama tanpa adanya control pemerintah. Jika kita melihat ke negara sebelah yaitu Malaysia (untuk bahan pembelajaran), negara Malaysia sangat mengontrol kegiatan keagamaannya dengan berbagai cara diantaranya pelarangan pembangunan tempat ibadah disuatu tempat atau lebih mengatur masalah tempat ibadah agar tidak asal jadi. Tidak seperti di Indonesia, ketika ada orang yang mau membangun masjid, maka dia langsung membangun masjid padahal disebelahnya sudah ada masjid. Kemudian, negara Malaysia mengawasi setiap pengurus masjid yang ada di negaranya dengan menempatkan orang-orang yang langsung ditunjuk oleh pemerintah pusat sehingga orang-orang tersebut akan mengajarkan sesuai dengan sasaran pemerintah dan dapat mencegah masuknya aliran baru.

Kemudian faktor selanjutnya karena rendahnya pendidikan kerohanian. Banyak masyarakat Indonesia yang masih rendah pemahamannya akan masalah keagamaan. Sehingga datang aliran baru mereka tidak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Ini semua terjadi mungkin karena kurangnya materi atau kurangnya cara penyampaian pesan-pesan agama ke masyarakat. Mungkin masyarakat bosan dengan metode pembelajaran ceramah yang isinya hanya itu-itu saja. Kebanyakan isinya masalah tauhid dan syair-syairan atau kelompok rebana, yang mungkin banyak di masyarakat yang tidak tahu artinya. Sebaiknya kita mengubah metode belajar masyarakat dengan cara langsung mempelajari Al-Quran dan Al-Hadist dengan cara manqul, musnad, muttasil. Yaitu dengan menerjemahkan langsung kata per kata dan dijelaskan dengan keterangan yang jelas. Dengan metode pembelajaran seperti ini mungkin masyarakat dapat lebih mengerti dan bisa menghindari atau membedakan aliran-aliran baru yang muncul sehingga tidak terpengaruh bahkan bisa mempengaruhi masyarakat.

0 komentar:

Post a Comment

Next Prev
▲Top▲